“kapan lulus Men?” dan Matematika Politik
Ada yang comment banyak tentang kapan aku lulus, banyak yang bilang terutama teman seangkatanku di Jurusan…. “Kapan lulus Men?” Aku jur menjawab 2009…
Sebenarnya jawabn itu cukup miris juga diatiku, yah setidaknya jawaban itu mengenai hal yang sangat krusial… dilain pihak aku termotivasi namun dipihak lain tuntutan rasa ‘malu’ tetap menjadi sebuah beban psikis…
Seperti sihir yang begitu mengerikan daripada santet yang berbahaya sekalipun…
LULUS, WISUDA, KERJA, NIKAH, PUNYA ANAK, PUNYA CUCU, TUA MATI…. SETELAH ITU APA?? SURGA? NERAKA? AKHERAT YANG TIDAK KEKAL? (kata sebuah judul buku)…
UHHHHHHHHH……….
Namun mau gak mau akhirnya aku start semester ini untuk ngerjain skripsi… menuntaskan salah satu kewajiban dan beban hidup… dimulai dari LULUS…..
SKRIPSI…. Banyak tema yang berputas di otak… Namun skripsi kali ini tidak harus muluk cukup realistis mengangkat tema tentang model “matematika politik”… Ini seh masih rencana karena aku benar-benar ngebet banget dengan rumusan matematika politik yang berjalan seperti konsep pantarei…
Inspirasinya adalah dikusi-diskusi maraton dengan berbagai kawan-kawan..
Dan analisis sederhana atas hasil pilkada Jatim dan 4 Pilkada Bupati pada waktu bersamaan di JAtim yaiyu di Bondowoso, Lumajang, Kota Malang dan Jombang…
Aku menginsiprasi ini ketika, fenomena berbagai lembaga survey yang tergabung dalam tim pemenangan di Pilakada Jatim putaran dua tidak sesuai prediksi. Catatan kecilku menyebutkan hampir seluruh lembaga survey Nasional mengeluarkan angka utnuk pilkada JAtim diatas 30%, prediksi ini menyiratkan bahwa Pilakada Jatim hampir dipastikan satu putaran saja. Dan prediksi ini dikeluarkan pada tanggal 21, 22 Juli 2008, dua hari dan sehari sebelum Pilkada dilaksanakan.
Tetapi fakta dilapangan bergerak dan berkata beda, tanggal 23 Juli 2008 lembaga penghitungan cepat yang ada memperkirakan Pilkada Jatim hampir dipastikan dua putaran karena tidak ada satu calonpun yang mencapai syarat minimal… Tentu ini bertoalk belakang dengan hasil survey sebelumnya
Dan menariknya lagi, Pasangan Kaji yang menang di Bondowoso terang-terang diusung PPP ternyat calon Bupati dari PPP di Bondowoso Kalah, di Lumajang Calon dari Golakr untuk Pilkada Jatim yaitu Salam kalah tetapi Bupati yang diusung P. Golkar menang, di Kota Malang demikian juga PDI-P yang mengusung SR untuk Jatim kalah tetapi wali kota Malang yang diusung PDI-P Menang, di Jombang juga demikian PDI-P menang untuk Bupati tapi kalah untuk Gubernur. Fenomena ini menarik sekaligus menarik perhatianku sejenak ke[ada gagasan Jusuf Kalla tentang wacana menjadikan satu pilpres, pilkada gubernur dan pilkada bupati beberapa waktu lalu. Nah, kemudian apakah bisa dikondisikan saat koalisi pusat bisa sampai kepada koalisi daerah? Apa yang terjadi sih dengan sistempolitik kita?
————————
Kembali ke Ramalan Politik. Apakah bisa disimpulkan bahwa teori tentang behavioralisme politik (perilaku politik) yang banyak dijadikan acuan dasar untuk survey ini sudah usang. Atau jangan-jangan teori yang digunakan masih tetap tidak mengacu pada kondisi kultural bangsa ini. Aku teringat kemudian bagan dari Galtung bagaimana perputaran dan pertukaran teori sejatinya i berlangsung…
Nah, aku berpikir sederhana, bisakah kemudian matematika politik untuk ruang-ruang election ini bisa diperbaharui? Karena dari diskusi dan fakta lapangan yang ada, tingkat ketepatan ramalan pilkades di sebuah desa memiliki akurasi yang lebih tepat dibandingkan dengan ramalan pilkada kab/kota/prov/nasional. Terlepas sample nya lebih sedikit atau lebih besar yang jelas, ada sebuah rantai terputus disini, saya kok meyakini bahwa proses pilkades yang umurnya lebh lama dari pilkada ini memiliki sebuah metode yang bergerak stabil dengan ramalan yang memiliki toleransi kesalahan sangat minim…
Ini yang membuatku tergelitik untuk menulis skripsi. Mungkin ada saran dan masukan silahkan comment aja ya…
Kuliah Tentunya… Itu yang Pertama
“Ceroboh” kata-kata yang cukup pantas untuk disandingkan padaku sekarang, kawankawan seangkatanku udah pada lulus dan kerja walupun juga masih ada yang ngganggur seh, belum lagi kawan-kawan seperjuanganku yang di organisasi mereka udah pada punya ‘gelar dulu’, dan saya hiks hiks hiks…..
Rencana lulus baru tahun 2009, itupun kalau diperjalanan menuju kesana gak ada godaan yang cukup menantang dan merangsang, yah seperti kerjaan yang aku impikan selama ini, apa itu? tentu jawabannya RAHASIA Dong!!!!
Tapi diatas langit tentu masih ada langit dan ketika aku menengok ke langit yang lebih atas lagi eh ternyata masih ada seniorku yang belum lulus juga…
wakakakakaka….
Tuhan memang maha adil…
