OSPEK Mengapa Tidak?

Kamis 27 Agustus 2008, sekitar pukul 05.00 pagi di Surabaya udara cukup dingin, beberapa warga daerah di Jalan Karang Menjangan terlihat baru turun dari Masjid melaksanakan shalat Shubuh, aku dalam separuh menahan kantuk menulusuri sepanjang jalan ini untuk mencari air mineral ukuran 1,5 liter, kios kecil yang aku tuju ditunggui oleh seorang perempuan berumur kira-kira 40 tahunan.

Ketika jarak antara aku dan kios itu tidak lebih dari sepuluh meter, tiba-tiba segerombolan anak muda laki-laki dan perempuan dengan mengenakan hem putih dan celana hitam serta sebuah topi yang dibuat dari pot plastik kecil seukuran kepala manusia berwarna hitam dilengkapai rumbai-rumbai berwarna-warni dari rafia, menyelonong saja dihadapan motor yang kunaiki, sontak aku kaget dan mendadak aku menahan kedua rem ditangan kanan dan kaki kananku. Mereka terlihat terburu-buru sekali pagi itu, dan diseberang jalan terlihat sudah ada beberapa kaum muda berbaris didampangi beberapa senior mereka, terdengar sayup teriakan kecil seorang laki-laki dan perempuan yang aku pastikan adalah senior mereka. Kaum muda itu adalah kumpulan mahasiswa baru, sejenak aku berpikir ”hari ini, hari masa pengenalan kampus atau biasa dikenal dengan OSPEK Fakultas. Mungkinkah mereka mahasiswa kampus A Unair?”

Lantas aku kemudian menuju ke kios itu, rasa haus yang sedikit tak membuatku nyaman harus segera aku hilangkan pikir dalam benakku. Aku kemudian turun dari motorku dengan keadaan mesin masih menyala, aku memarkirnya sangat dekat dengan kios. Lantas aku mengambil air mineral 1,5 liter yang ada dan langsung menanyakan harganya sembari aku menyodorkon uang lima ribu rupiah. Plastik penutupnya aku buka, dan tutup botol segera aku putar ke kiri dan… gluk… gluk… gluk.. gluk… ah segarnya, terasa nikmat sekali…

Ibu itu memberikan uang kembalian sebesar seribu lima ratus rupiah, sembari itu aku bertanya kepada ibu penjaga kios tersebut sambil menunjukkan tangan kananku ke seberang jalan dimana kaum muda tersebut berkumpul dan berbaris rapi ”Bu, sudah berapa lama mereka ada disini?”. ibu itu menjawab ”sekitar lima belas menit yang lalu”, pertanyaan itu cukup memberikanku sebuah penjelasan bahwa fakultas atau darimanapun asal mereka (panitia yang mengadakan OSPEK tersebut) tentu lebih hebat dari kampusku FISIP Unair (aku mengukur dari jam mulai seluruh peserta kumpul).

Kemudian aku kembali ke atas motorku dan berpamitan pada penjaga kios, aku menoleh dan ternyata barisan mereka sudah mulai sedikit masuk bahu jalan. Sambil penasaran dan ingin mencari tahu dari fakultas apa seh mereka?, aku memacu motorku ke tempat dimana kosku terletak tidak jauh dari itu.

—————-

OSPEK bagiku merupakan bagian ritual rutin memasuki dunia kampus, perbincangan ini sejak jaman dulu kala selalu menjadi pro dan kontra. Dan tetap dengan alasan yang serupa setiap tahunnya yaitu, dari tugas yang tidak masuk akal untuk ukuran mahasiswa, kemudian tugas-tugas yang susah untuk dikerjakan mengingat waktu yang begitu sempit dan sedihnya tugas itu dikerjakan sampai larut malam sehingga sulit dan susah untuk bangun sesuai jadwal yang kadang juga gak rasional seperti yang aku lihat diatas, belum lagi ketika udah berada dilokasi OSPEK selalu aja ada kesalahan yang muncul walaupun menurut kita tidak salah, memang udah menjadi rahasia umum kalau pasal pertama berbunyi senior tidak pernah salah dan pasal kedua jika senior salah lihat pasal satu.

Namun apapun isi pro kontra tersebut, anehnya setiap tahun ritual ini masih saja tetap ada dengan mengantongi ijin dari sebuah universitas, walaupun memang tak jarang beberapa fakultas, jurusan mencuri-curi ijin agar tetap bisa melaksanakan kegiatan ini. Yah terlepas dari apa yang ada di otak kita, ternyata dari tahun ketahunpun panitia untuk OSPEK masih juga tetap ada dan tetap diminati (motif mereka menjadi panitia pun bervariasi, mulai dari yang ingin mencari gebetan baru dengan mahasiswa baru atauun sesama panitia, atau juga ingin membuat OSPEK lebih baik dari sebelumnya, atau juga seperti yang ada dalam banyak pemikiran kita yaitu ”motif balas dendam”).

Hal yang lebih menarik aku cermati yaitu ternyata OSPEK ini menjadi sebuah ’identitas yang melebur dalam sebuah komunitas’, misalkan sebuah OSPEK pasti memiliki ciri sebagai identitas komunitasnya karena memiliki dampak jangka panjang pada sebuah komunitas tersebut bisa seperti rasa persaudaraan, kekerabatan, pertemanan sesama angkatan OSPEK yang kemudian terintegrasikan pada komunitas yang lebih besar.

Dalam perjalanannya ketika kita sudah berumur pada penghujung semester jika kemudian otak kita diputar untuk beromantisme dengan masa lalu pada file OSPEK maka kita benar-benar mahasiswa putih yang belum tahu kehidpuan kampus, salah satu yang mengenalkan kehidupan kita dalam dunia kampus ternyata OSPEK!!! [end]

One Response

  1. Kehidupan kampus, cara belajar di perguruan tinggi, bagaimana cara ‘ini dan itu’ di perguruan tinggi dll, itu semua kita ketahui saat kita langsung terjun kedalamnya. Itu semua melalui proses adaptasi yg cukup panjang…., mungkin bbrp bulan atw bbrp tahun mungkin. atau mungkin ada mhsw yg msh blum mengerti kehidupan kampus sampai dia lulus.

    Terutama…, cara belajar di perguruan tinggi…, ini yg penting, bagaimana seorang mahasiswa dituntut untuk mandiri, terutama dalam mencari ilmu atw segala sesuatu yg berhubungan dengan studi nya diluar kegiatan praktek dan perkuliahan. Apakah kemandirian ini kita dapatkan gitu aja setelah mengikuti Ospek? udah ikutan ospek ujug2 kita jadi mandiri? Sy rasa tidak. Coba tanya sekian puluh atw sekian ribu orang : “apa yang anda ketahui ttg Ospek?” Pasti jawaban mereka tak jauh dari : senioritas, perpeloncoan, bentak2an, Push up, Bawa barang2 aneh, dll. Hal2 itulah yg “nyangkut” di benak orang2 (yg pernah ikutan ospek ataupun yg belum) tentang kegiatan yg disebut Ospek itu. Lalu mana hal2 yg sebenarnya sangat kita butuhkan untuk menghadapi dunia kampus, seperti kemandirian dalam belajar yg telah disebutkan tadi? nonsense…, semuanya gak ada di Ospek.

    Kehidupan ini jauh lebih menantang dari Ospek paling brutal sekalipun. Kehidupan ini jauh lebih keras tinimbang Barak militer paling sakit sekalipun. Kebersihan hati lah yg mampu menguatkan kita dalam menghadapi kehidupan ini. Kebersihan hati, positive thinking, motivasi…., dll. Hal2 ini lah sebenarnya yg kita butuhkan untuk menghadapi kerasnya kehidupan. apakah hal2 ini juga kita dapatkan dari Ospek….???? Nonsense !!!

    Jadi intinya Ospek itu bukan nol (0)…., tapi himpunan kosong { } sama sekali gak ada harganya

Leave a Reply